
Produksi dan Industri Sebagai Penggerak Perekonomian Indonesia
Oleh: Nur Sabila Siregar
Mahasiswa FEBI UIN Sumatera Utara
Medan, ekispedia.id – Coba lihat barang-barang di sekitar kita sekarang: HP, baju, makanan ringan, sampai motor yang dipakai berangkat kuliah. Semuanya lahir dari proses produksi, dan sebagian besar dikerjakan lewat industri. Karena itu, kalau ada yang bilang industri adalah salah satu penggerak utama perekonomian, rasanya masuk akal banget.
Di Indonesia, peran industri bahkan cukup besar. Menurut Rohmah dkk. (2024), sektor industri menyumbang sekitar 20% dari total PDB Indonesia pada tahun 2022, dan sektor manufaktur sendiri menyumbang lebih dari 80% dari seluruh output industri tersebut. Angka segitu bukan main-main. Artinya, kalau industri sehat, dampaknya terasa ke mana-mana. Nah, di artikel ini saya mau ngebahas gimana sebenarnya cara kerja produksi dan industri dalam menggerakkan ekonomi kita.
Produksi dan Industri: Apa Bedanya?
Biar nggak bingung, kita samakan dulu pengertiannya. Produksi adalah kegiatan menciptakan atau menambah nilai guna barang dan jasa. Jadi bukan cuma bikin barang di pabrik, tapi juga termasuk mengangkut, menyimpan, atau memberi layanan. Sementara industri adalah wadah yang lebih besar dan terorganisasi untuk melakukan produksi itu, biasanya pakai mesin, teknologi, dan pembagian kerja yang jelas.
Bayangin tukang kayu yang bikin kursi satu-dua biji di bengkel kecil. Itu produksi. Tapi begitu dia punya pabrik, puluhan karyawan, dan bisa kirim ribuan kursi ke berbagai kota, itu sudah masuk kategori industri.
Bagaimana Industri Menggerakkan Ekonomi?
Ada beberapa jalur yang bikin industri punya efek besar. Pertama, industri menyerap tenaga kerja. Satu pabrik butuh operator mesin, staf administrasi, tim pemasaran, sampai sopir pengantar barang. Rohmah dkk. (2024) mencatat bahwa industri manufaktur dan jasa membuka lapangan kerja bagi jutaan pekerja di Indonesia, dan peningkatan industri berpotensi menekan pengangguran.
Kedua, industri menaikkan nilai tambah. Contohnya, biji kopi mentah dijual dengan harga tertentu, tapi kalau sudah disangrai, dikemas, dan diberi merek, harganya bisa berkali lipat. Di Sumatera Utara, kita bisa lihat contohnya dari perkebunan sawit dan karet yang hasilnya diolah jadi produk turunan. Inilah yang sering disebut hilirisasi, yaitu mengolah bahan mentah di dalam negeri supaya keuntungannya nggak lari ke luar.
Ketiga, industri menggerakkan sektor lain. Pabrik makanan butuh petani, butuh pengemasan, butuh transportasi, bahkan butuh iklan. Rohmah dkk. (2024) menyebutkan subsektor seperti tekstil, otomotif, elektronik, serta makanan dan minuman sebagai penyumbang besar pada PDB. Satu subsektor tumbuh, sektor di sekelilingnya ikut kecipratan. Gambaran sederhananya bisa dilihat pada ilustrasi berikut.

Kalau diperhatikan, mulai dari pabrik, truk pengangkut, sampai grafik yang naik, semuanya nyambung. Bahan baku diolah industri, industri membuka lapangan kerja, pekerja punya penghasilan untuk belanja, dan belanja itu mendorong investasi baru yang akhirnya memperbesar produksi lagi.
Tantangan yang Masih Dihadapi
Meski perannya besar, jalan industri Indonesia belum mulus. Rohmah dkk. (2024) menyoroti beberapa kendala, di antaranya dana untuk penelitian dan pengembangan yang masih terbatas, infrastruktur yang belum merata, pendidikan dan pelatihan yang perlu ditingkatkan, serta aturan yang kadang belum jelas. Padahal, di era digital seperti sekarang, otomatisasi dan teknologi bisa bikin produksi jauh lebih efisien. Jadi, kalau kita mau naik kelas jadi negara maju, inovasi dan kualitas SDM nggak bisa ditawar lagi.
Pandangan Islam tentang Bekerja dan Berproduksi
Dalam Islam, kerja keras mencari rezeki itu dianjurkan dan bernilai ibadah. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Jumu’ah ayat 10:
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.”
Ayat ini ngasih pesan kalau urusan ibadah dan urusan cari nafkah itu bisa berjalan beriringan. Selain itu, Al-Qur’an juga menyinggung bahan yang jadi tulang punggung industri, yaitu besi, dalam QS. Al-Hadid ayat 25:
وَأَنزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ
“Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia.”
Besi dipakai untuk mesin, kendaraan, jembatan, dan gedung. Jadi, mengolah sumber daya alam menjadi sesuatu yang berguna itu sejalan dengan ajaran Islam, asalkan dilakukan dengan cara yang halal, adil, dan tidak merusak lingkungan.
Dari pembahasan di atas, kita bisa lihat bahwa produksi dan industri bukan sekadar urusan pabrik dan mesin. Keduanya adalah roda yang menggerakkan lapangan kerja, menaikkan nilai bahan mentah, dan menghidupkan sektor-sektor lain di perekonomian Indonesia.
Tantangan seperti inovasi, infrastruktur, dan kualitas SDM memang masih ada, tapi justru di situlah peluang buat generasi muda, termasuk kita para mahasiswa, untuk ikut berkontribusi. Dan sebagai orang yang beriman, semangat bekerja ini perlu kita jalankan dengan jujur dan bertanggung jawab.






