Mengapa Bank Swasta Bisa “Menciptakan Uang”? Perdebatan Sistem Moneter Kian Panas

Medan, ekispedia.id – Konsep full-reserve banking atau sistem perbankan cadangan penuh kembali menjadi perdebatan hangat dalam diskursus ekonomi modern. Dalam sebuah tanggapan lanjutan yang dipublikasikan oleh Islamic Economics Project, para penulis buku mengenai reformasi moneter mempertahankan argumentasi mereka terhadap kritik yang dilontarkan oleh para pengulas.

Menurut penulis, kritik terhadap gagasan full-reserve banking selama ini terlalu banyak bertumpu pada asumsi spekulatif mengenai risiko transisi, sementara kelemahan mendasar sistem moneter berbasis utang justru diabaikan.

Mereka menilai anggapan bahwa sistem cadangan penuh “tidak memiliki contoh nyata” merupakan pandangan yang lemah secara historis. Dalam sebagian besar sejarah moneter dunia, penciptaan uang pada dasarnya merupakan fungsi negara atau otoritas publik, bukan lembaga perbankan swasta. Praktik bank komersial menciptakan uang melalui ekspansi kredit berbasis utang dinilai sebagai fenomena yang relatif modern.

Karena itu, konsep full-reserve banking dipandang sebagai upaya mengembalikan stabilitas moneter dengan memisahkan penciptaan uang dari ekspansi utang yang berlebihan.

Didukung Ekonom Besar Dunia

Penulis juga membantah tuduhan bahwa konsep tersebut tidak memiliki landasan akademik yang kuat. Mereka menyebut sejumlah ekonom besar dunia seperti Irving Fisher, Henry Simons, Maurice Allais, dan Milton Friedman pernah mendukung atau mengkaji serius sistem cadangan penuh.

Milton Friedman bahkan pernah menyatakan bahwa transisi menuju sistem cadangan 100 persen secara teknis dapat dilakukan dengan mudah, cepat, dan tanpa dampak serius terhadap pasar ekonomi maupun keuangan.

Pandangan itu disebut bertolak belakang dengan kritik yang menyatakan bahwa sistem tersebut akan memicu kekacauan finansial atau membuat pasar kehilangan stabilitas.

IMF Disebut Pernah Mengkaji

Penulis juga menyoroti studi yang dilakukan oleh International Monetary Fund melalui riset ekonom Jaromir Benes dan Michael Kumhof.

Dalam kajian tersebut, model ekonomi yang digunakan diklaim menunjukkan bahwa sistem full-reserve banking berpotensi mengurangi volatilitas siklus bisnis, menghapus risiko bank run, menekan utang publik dan swasta secara signifikan, serta meningkatkan output ekonomi jangka panjang.

Mereka menilai para pengkritik terlalu fokus pada keterbatasan teknis model ekonomi tanpa memperhatikan kesimpulan utama penelitian tersebut.

“Setiap model makroekonomi pasti memiliki asumsi dan parameter tertentu, termasuk model yang selama ini digunakan untuk membenarkan sistem moneter modern,” tulis penulis dalam rejoinder tersebut.

Kritik terhadap Sistem Utang Global

Artikel itu juga menyoroti realitas ekonomi global saat ini yang dinilai semakin rapuh akibat dominasi sistem uang berbasis utang.

Penulis menunjuk tingginya utang global, krisis perbankan berulang, inflasi, gelembung aset spekulatif, ketimpangan ekonomi, hingga bailout perbankan menggunakan dana publik sebagai bukti bahwa sistem saat ini gagal menciptakan stabilitas.

Menurut mereka, jika sistem moneter berbasis utang benar-benar stabil dan disiplin, dunia tidak akan terus menghadapi kerentanan finansial secara berulang.

Sistem Bagi Hasil Dinilai Lebih Produktif

Penulis juga menolak anggapan bahwa sistem cadangan penuh akan menghapus pembiayaan produktif atau investasi.

Sebaliknya, mereka menawarkan pendekatan pembiayaan berbasis profit and loss sharing atau bagi hasil melalui instrumen seperti Musharakah, Mudarabah, dan Sukuk.

Skema tersebut dinilai lebih dekat dengan aktivitas ekonomi riil dibanding sistem utang berbunga yang dianggap mendorong spekulasi dan ekspansi kredit berlebihan.

Dalam pandangan mereka, sistem moneter modern justru semakin banyak mengalirkan uang baru ke pasar aset, utang pemerintah, dan aktivitas spekulatif ketimbang mendukung sektor produktif.

Remitansi dan Stabilitas Ekonomi

Penulis turut membantah tudingan bahwa sistem ini akan memicu pelarian modal atau melemahkan remitansi pekerja migran.

Menurut mereka, aliran remitansi lebih dipengaruhi oleh stabilitas nilai tukar, kepercayaan terhadap sistem keuangan, dan biaya transaksi. Jika ekonomi menjadi lebih stabil dan tidak bergantung pada utang, kepercayaan terhadap jalur keuangan formal justru dinilai dapat meningkat.

Mereka juga menolak anggapan bahwa pembentukan otoritas pencipta uang negara akan lebih politis dibanding sistem sekarang.

“Setidaknya dalam kerangka sovereign money, penciptaan uang menjadi transparan, akuntabel secara publik, dan diatur secara konstitusional,” tulis mereka.

Pertanyaan Besar yang Belum Terjawab

Di akhir tulisannya, penulis mengajukan satu pertanyaan mendasar yang menurut mereka belum dijawab oleh para pengkritik sistem reformasi moneter tersebut.

“Mengapa institusi swasta yang berorientasi keuntungan harus memiliki kekuasaan untuk menciptakan sebagian besar suplai uang suatu negara melalui utang, padahal sistem itu terus menghasilkan instabilitas, utang berlebihan, dan kerapuhan finansial secara global?” tulis mereka.