Perluas Pasar Ekspor Manufaktur ke Afrika & Mediterania, Kemenperin Bidik Kerja Sama Perdagangan Lebih Erat dengan Maroko
Jakarta, ekispedia.id – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) secara agresif berupaya memperluas pasar ekspor produk manufaktur Indonesia ke wilayah Mediterania dan Afrika Utara. Langkah strategis ini ditempuh melalui penjajakan kerja sama perdagangan yang lebih erat dengan Maroko.
“Maroko memiliki posisi geografis yang sangat strategis, bertindak sebagai pintu gerbang utama menuju Afrika Utara dan kawasan Mediterania. Kami melihat potensi yang luar biasa besar untuk memanfaatkan keuntungan ini guna membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk industri Indonesia,” ujar Wakil Menteri Perindustrian, Faisol Riza, dalam keterangan resminya yang diterima di Jakarta, Rabu (15/7).
Faisol Riza menekankan bahwa selain meningkatkan penetrasi pasar, kerja sama ini juga bertujuan memperkuat kemitraan di sektor-sektor masa depan yang bernilai tambah tinggi, seperti dirgantara, industri halal, farmasi, dan energi terbarukan.
Strategi utama yang tengah didorong adalah pembentukan Preferential Trade Agreement (PTA). Inisiatif ini krusial untuk memangkas hambatan tarif dan secara signifikan meningkatkan daya saing produk manufaktur Indonesia di pasar Mediterania.
Lebih jauh, usulan kerja sama ini tidak hanya berfokus pada ekspor barang jadi. Sinergi dengan Maroko juga diharapkan dapat mengamankan rantai pasok bahan baku industri strategis bagi Indonesia, terutama fosfat dan aluminium.
Landasan Sejarah Kuat
Hubungan diplomatik yang telah terjalin antara Indonesia dan Maroko sejak tahun 1956 menjadi fondasi yang kokoh untuk mengakselerasi kerja sama ekonomi bilateral.
Indonesia memandang kemitraan ini sebagai momentum strategis untuk mempertajam daya saing sektor manufaktur nasional, sekaligus memperluas ekspansi ekonomi ke Benua Afrika dan wilayah sekitarnya.
Potensi perdagangan bilateral kedua negara didukung oleh tren positif ekspor Indonesia ke Maroko. Komoditas utama yang mendominasi ekspor meliputi minyak nabati, karet dan produk turunannya, alas kaki, tekstil, mesin, peralatan listrik, serta produk unggulan seperti kopi, teh, dan rempah-rempah.
Sebaliknya, Indonesia mengimpor berbagai bahan baku dan barang modal penting dari Maroko, termasuk pupuk, aluminium, tekstil, dan bahan baku industri lainnya.
Akselerasi Kerja Sama Industri Halal
Wamenperin Faisol Riza mengungkapkan bahwa dirinya telah mengadakan pertemuan produktif dengan Menteri Perdagangan Luar Negeri Maroko, Omar Hejira. Pertemuan tersebut secara khusus membahas langkah-langkah konkret untuk memperkuat kolaborasi industrial bilateral.
Salah satu hasil konkret dari pertemuan tersebut adalah komitmen bersama untuk mempercepat kerja sama di sektor industri halal.
Komitmen ini secara simbolis direalisasikan melalui penandatanganan Mutual Recognition Agreement (MRA) atau Perjanjian Pengakuan Timbal Balik mengenai sertifikasi halal. Dokumen penting tersebut ditandatangani oleh Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Indonesia dan Institut Maroko untuk Standardisasi (IMANOR) pada Mei 2026.
Melalui MRA ini, diharapkan produk halal Indonesia dapat memasuki pasar Maroko dengan lebih mulus tanpa harus melalui prosedur sertifikasi ulang yang memakan waktu dan biaya. Kesepakatan ini juga diproyeksikan membuka peluang investasi baru dan pengembangan industri halal bersama di kedua negara.
Sebagai tindak lanjut dari penguatan kerja sama ini, Kemenperin telah secara resmi mengundang pemerintah Maroko untuk berpartisipasi dalam ajang bergengsi Halal Expo 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada bulan September mendatang.
Kemenperin optimistis kehadiran Maroko dalam pameran tersebut akan memperluas jejaring bisnis (networking), mempertemukan para pelaku industri utama dari kedua negara, dan menciptakan peluang yang lebih besar bagi investasi serta perdagangan produk halal di pasar global.




