
Indonesia Turun ke Peringkat 4 Ekonomi Syariah Dunia, Ini Kata Bos BSI
JAKARTA, ekispedia.id – Indonesia turun dari peringkat ketiga ke posisi keempat dalam peta ekonomi syariah global pada 2025/2026. Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI), Anggoro Eko Cahyo, menyebut pengembangan industri wisata ramah Muslim, farmasi, dan kosmetik halal menjadi faktor yang mendorong Uni Emirat Arab (UEA) naik ke posisi kedua.
Berdasarkan laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE) 2025/2026 yang diterbitkan DinarStandard, Malaysia masih menempati posisi pertama, disusul UEA dan Arab Saudi. Indonesia berada di urutan keempat, turun satu peringkat dibandingkan laporan sebelumnya.
Anggoro menjelaskan, UEA dinilai mampu mendorong sejumlah sektor industri halal sehingga memperkuat daya saing ekonomi syariahnya di tingkat global.
“UEA nyalip kenapa? Karena dia ekoturismenya, halal turismenya didorong, farmasinya didorong. Karena dia punya bisnis wisata muslim, farmasi, kosmetik halal didorong oleh UEA. Maka dia langsung nyalip ke nomor dua. Saudi-nya turun ke tiga, kita turun ke empat,” kata Anggoro dalam CEO Lecture Series IV di Perbanas Institute, Jakarta, Rabu (28/10).
Meski turun peringkat, Indonesia masih memiliki peluang besar untuk memperkuat posisi dalam industri ekonomi syariah global. Anggoro menyebut pasar ekonomi syariah dunia memiliki potensi sekitar Rp46.000 triliun, mencakup beragam sektor di luar perbankan.
Peluang tersebut meliputi makanan halal, fesyen Muslim, wisata ramah Muslim, farmasi, kosmetik, serta media dan hiburan.
Menurut Anggoro, luasnya pasar domestik Indonesia dapat menjadi modal untuk mengembangkan bisnis halal sekaligus memperkuat daya saing produk nasional.
“Mau bikin bisnis pakaian muslim boleh, mau bikin bisnis restoran-restoran halal boleh, mau bikin produk-produk kosmetik yang halal boleh,” ujarnya.
Pangsa Pasar Perbankan Syariah Baru 7 Persen
Di sektor keuangan, Anggoro menyoroti pangsa pasar perbankan syariah Indonesia yang masih sekitar 7 persen. Angka tersebut, menurut dia, masih tertinggal dibandingkan Malaysia yang mencapai 30 persen dan Pakistan sebesar 20 persen.
Ia menilai rendahnya pemanfaatan layanan keuangan syariah berkaitan dengan literasi dan inklusi keuangan syariah yang belum merata.
Anggoro menyebut tingkat literasi keuangan syariah berada di angka 43 persen, sedangkan inklusinya baru 13 persen.
“Satu, tantangannya. Satu, literasi sama inklusinya belum menyebar, belum cukup. Literasinya 43 persen, inklusinya 13 persen,” ungkapnya.
Selain itu, keterbatasan jaringan kantor juga menjadi tantangan bagi industri perbankan syariah. Dari sekitar 25.000 kantor cabang perbankan di Indonesia, jumlah kantor cabang bank syariah disebut baru sekitar 2.350.
Anggoro menilai ekspansi jaringan kantor secara besar-besaran membutuhkan biaya operasional yang tinggi. Karena itu, digitalisasi menjadi salah satu strategi untuk memperluas akses masyarakat terhadap layanan perbankan syariah.
“Maka bagaimana kita ngejarnya? Ya dengan digitalisasi. Jadi, punya aplikasi mobile itu bukan gaya-gayaan buat kami di perbankan syariah. Itu memang survival mode-nya perbankan syariah,” jelasnya.
BSI Bidik Aset Rp1.000 Triliun pada 2030
Di tengah peluang pertumbuhan ekonomi syariah, BSI menargetkan masuk lima besar bank syariah dunia berdasarkan aset pada 2030.
Anggoro menyebut aset BSI saat ini mencapai sekitar Rp465 triliun dengan jumlah nasabah sekitar 24 juta. Perseroan menargetkan aset meningkat menjadi Rp1.000 triliun dan jumlah nasabah mencapai 40 juta pada 2030.
“Top 10 enggak cukup, harus top 5. Negara-negara kecil semua. Jadi tahun 2030 kita menjadi top 5. Aset mau menjadi 1.000 triliun, lalu ROE 25 persen dan customer 40 juta,” tegasnya.
ROE atau return on equity merupakan rasio yang mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba berdasarkan modal sendiri.






