Scroll untuk baca artikel
Seedbacklink affiliate
Kolumnis

Setelah Rojali dan Rohana, Muncul Romantis

Fitria Nurma Sari
250
×

Setelah Rojali dan Rohana, Muncul Romantis

Sebarkan artikel ini

Yogyakarta, ekispedia.id – Rojali dan Rohana seperti nama dua artis yang banyak berseliweran di berbagai bahasan media sosial maupun media berita. Padahal Rojali (rombongan jarang beli) dan Rohana (rombongan hanya nanya) adalah dua akronim yang menggambarkan pahitnya keadaan masyarakat Indonesia. Mereka adalah gambaran jelas kondisi kelas menengah di Indonesia saat ini. Banyak dari mereka pergi ke mal tapi jarang yang berbelanja. Banyak yang pergi ke pameran tapi hanya sebatas tanya-tanya harga.

Hal ini seolah meneguhkan bahwa kondisi Indonesia sebenarnya tidak baik-baik saja. 68,3% orang Indonesia tergolong miskin. Bahwa apa yang tampak hanya ramai di permukaan namun lesu di kedalaman. Kita harus sadar bahwa fenomena Rojali dan Rohana tidak hadir sekonyong-konyong tanpa sebab. Ketika pusat perbelanjaan, pameran bahkan pusat kuliner ramai namun yang datang hanya melihat-lihat tanpa ada transaksi yang signifikan, itu artinya kemampuan belanja masyarakat lemah. Mereka masih ingin hidup normal namun daya beli tidak memungkinkan.

Akan tetapi pemerintah terus sibuk menarasikan: “ekonomi kita kuat, stabil di kisaran 5% bahkan bisa mendekati 7%”. Nyatanya, ratusan juta masyarakat Indonesia tidak makan angka 5%. Masyarakat merasakan harga beras yang melonjak di saat stok bulog katanya berada di posisi tertinggi sejak Indonesia merdeka. Ditambah dolar yang betah bertengger di angka Rp 16.000 lebih menjadikan harga barang-barang ikut naik. Kalau memang ekonomi kita benar-benar kuat, lalu kenapa dompet orang Indonesia rasanya semakin tipis?

Data menunjukkan pertumbuhan konsumsi rumah tangga melambat ke 4,87% turun dari 4,91% di periode yang sama tahun lalu. Padahal konsumsi rumah tangga menyumbang 54,53% Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Jika konsumsi melambat itu artinya mesin utama ekonomi Indonesia sedang terhambat. Dengan demikian jika konsumsi melambat, pertumbuhan 5% bukankah hanya menjadi angka di atas kertas. Tetapi di setiap podium, pejabat selalu beretorika “optimisme” bahwa Indonesia semakin cerah. Padahal rakyatnya cuma bisa lihat-lihat tanpa bisa belanja.

Kita harus rela mengakui fenomena Rojali dan Rohana bukan sekedar humor media sosial. Ini gejala serius bahwa dengan merebaknya Rojali dan Rohana memiliki dampak berantai. Toko ritel kehilangan omzet, UMKM semakin terpojok, industri melakukan efisiensi bahkan berpotensi meroketnya angka PHK. Terbukti bahwa angka pengangguran di Indonesia semakin meningkat. Februari 2025 angka pengangguran tercatat sejumlah 7.278.307 orang meningkat dari tahun sebelumnya yang “hanya” 7.194.862 orang.

Tetapi lagi-lagi pemerintah membungkus fakta ini melalui data-data yang ambigu. Dengan percaya diri mulai dari presiden hingga pembantunya menyatakan angka pengangguran turun padahal yang dicatat adalah Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) yang standarnya sangat bias. Warganya bahkan jika bekerja 1 jam dalam seminggu walau tanpa digaji tetap dihitung sudah bekerja.

Pergeseran kondisi pekerja di Indonesia juga semakin mengkhawatirkan karena semakin banyak pekerja informal yang tadinya hanya 59,17% menjadi 59,40%. Banyak pekerja sektor formal terpaksa beralih karena berbagai hal terutama PHK ke sektor informal. Padahal pekerja informal sangat rentan kesejahteraannya karena tidak adanya jaminan sosial, ketidakpastian pendapatan jaminan kesehatan sehingga sangat rentan guncangan ekonomi. Perkembangan dunia ketenagakerjaan tidak semakin baik malah kualitasnya semakin menurun.

Mungkin pemerintah selalu optimis karena sadar akan posisinya dan memilih menyangkal sembari berharap pasar tidak ikut bergejolak. Jika pemerintah turut serta mengamini kondisi yang sebenarnya tentu bisa jadi sentimen negatif yang memperkeruh kondisi ekonomi nasional. Namun bukan berarti pemerintah seolah abai terhadap alarm keras yang berbunyi di tengah hiruk pikuk ekonomi dan politik dinamis.

Pemerintah harus aktif bergerak merumuskan strategi jitu agar pertumbuhan ekonomi berbalik ke angka-angka positif. Pemerintah harus ekstra aktif menggenjot komoditas ekspor agar neraca ekonomi kita seimbang. Pemerintah harus menginkubasi secara serius potensi ekonomi yang layak untuk diekspor. Beberapa tahun belakangan pemerintah aktif dalam melakukan inovasi produk melalui hilirisasi sumber daya alam Indonesia. Harus diakui hilirisasi memang langkah strategis untuk meningkatkan nilai produk dan membuat kita lebih tahan pada gejolak tarif global. Hilirisasi memang penting akan tetapi lebih penting jika pemerintah juga memastikan keuntungan dari industri hilirisasi tidak hanya dirasakan oleh segelintir orang saja.

Sebagai sabuk pengaman, harga pangan harus terus diawasi dan dikendalikan agar tidak semakin memukul daya beli. Strategi operasi musiman tidaklah memadai. Rantai pasok dan siklus produksi pangan butuh intervensi lebih serius. Bulog sepertinya sudah mulai menjalankan tugasnya dengan cukup baik dengan menyerap beras petani walaupun juga menjadi pertanyaan dengan stok bulog yang melimpah mengapa harga beras di pasaran tetap naik.

Rojali dan Rohana adalah gejala serius yang mengabarkan kalau ada yang salah dalam ekonomi nasional kita. Pemerintah sudah saatnya memahami dan tidak berkutat dengan retorika saja. Jika terus diabaikan jangan heran jika nantinya akan ada rombongan baru yaitu Romantis (Rombongan Minta Diskon).