Puasa Mengajarkan Manajemen Keuangan
Medan, ekispedia.id – Ramadhan selalu datang membawa pesan besar: menahan diri. Menahan lapar, menahan haus, menahan amarah, menahan nafsu. Namun ironisnya, di tengah pesan pengendalian diri itu, Ramadhan justru sering berubah menjadi bulan paling boros dalam setahun. Pasar ramai, pusat belanja penuh, transaksi online melonjak, dan konsumsi masyarakat meningkat drastis.
Ini paradoks yang sulit dibantah. Di satu sisi kita berpuasa, di sisi lain pengeluaran justru membengkak.
Padahal, kalau dipahami lebih dalam, puasa sebenarnya bukan hanya ibadah spiritual, tetapi juga pelajaran ekonomi yang sangat nyata. Puasa adalah sekolah manajemen keuangan paling sederhana sekaligus paling keras. Puasa mengajarkan prioritas. Puasa mengajarkan disiplin. Puasa mengajarkan bahwa kebutuhan itu berbeda dengan keinginan.
Sayangnya, pelajaran itu sering gagal dipraktikkan.
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang mengelola uang dengan pola yang sama seperti mengelola nafsu makan: tidak terkontrol. Ada uang sedikit, belanja banyak. Ada uang lebih, belanja lebih banyak. Akhirnya, penghasilan habis bukan karena kebutuhan besar, tetapi karena gaya hidup yang tidak terkendali.
Ramadhan datang seharusnya untuk memutus pola itu.
Puasa mengajarkan bahwa kita bisa hidup dengan lebih sederhana. Biasanya orang makan tiga kali sehari. Saat puasa, hanya dua kali. Bahkan sebagian orang hanya satu kali makan besar. Artinya, puasa memberi pesan jelas: tubuh manusia tidak serapuh yang kita kira. Kita sering merasa harus makan banyak, harus belanja banyak, harus punya banyak. Padahal, kenyataannya kita bisa bertahan dengan lebih sedikit.
Kalau urusan makan saja bisa ditahan, seharusnya urusan belanja juga bisa.
Namun realitasnya, banyak orang justru menjadikan Ramadhan sebagai alasan untuk konsumsi berlebihan. Berbuka menjadi ajang balas dendam. Takjil dibeli bermacam-macam, lauk berlebihan, makanan menumpuk di meja. Yang dimakan hanya sebagian, sisanya terbuang. Di sinilah muncul masalah besar: mubazir. Dan mubazir bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga persoalan moral.
Dalam ekonomi syariah, mubazir adalah bentuk pemborosan yang dilarang. Islam mengajarkan bahwa harta adalah amanah, bukan mainan. Tetapi kebiasaan masyarakat menunjukkan sebaliknya: Ramadhan justru memunculkan pola konsumsi yang tidak sehat. Puasa di siang hari, pesta di malam hari. Menahan lapar sepanjang hari, lalu belanja tanpa kendali saat sore.
Ramadhan yang seharusnya mendidik, malah berubah menjadi ruang pelampiasan.
Manajemen keuangan sejatinya adalah manajemen diri. Dan puasa adalah latihan paling konkret tentang manajemen diri. Orang yang bisa menahan diri untuk tidak makan meski lapar, sebenarnya sedang melatih kemampuan untuk berkata “tidak”. Kemampuan berkata “tidak” inilah inti dari manajemen keuangan.
Karena masalah keuangan banyak orang bukan karena penghasilan kecil semata, tetapi karena tidak mampu menahan keinginan.
Kita bisa lihat gejalanya di mana-mana. Banyak orang gaji habis sebelum akhir bulan. Banyak keluarga terjebak utang konsumtif. Banyak orang membeli barang bukan karena butuh, tetapi karena ingin terlihat mampu. Lebih tragis lagi, sebagian orang memaksakan diri berutang demi memenuhi gengsi lebaran. Baju baru, perabot baru, handphone baru, semuanya dikejar hanya agar terlihat “layak” di mata orang lain.
Padahal lebaran tidak pernah meminta kita pamer.
Puasa sebenarnya memberi pelajaran bahwa hidup tidak perlu dibangun di atas gengsi. Puasa membuat kita merasakan lapar seperti yang dirasakan orang miskin. Dengan itu, seharusnya lahir empati. Namun kalau setelah puasa kita justru semakin boros, maka artinya empati itu gagal tumbuh.
Ramadhan juga mengajarkan pengaturan waktu. Ada jadwal sahur, jadwal berbuka, jadwal tarawih. Semua teratur. Jika pola hidup bisa diatur sedemikian disiplin, mengapa pola keuangan tidak bisa diatur juga? Mengapa uang selalu habis tanpa perencanaan?
Di sinilah Ramadhan seharusnya menjadi momentum evaluasi keuangan keluarga.
Sederhana saja: kalau selama Ramadhan kita bisa mengurangi konsumsi siang hari, seharusnya ada ruang untuk menabung. Kalau biasanya uang habis untuk jajan dan makan di luar, Ramadhan bisa menjadi waktu mengumpulkan dana darurat. Bahkan bagi pekerja kecil sekalipun, penghematan Rp10 ribu per hari jika konsisten bisa menjadi sesuatu yang berarti.
Tetapi itu hanya bisa terjadi jika kita menjalankan puasa dengan kesadaran, bukan sekadar rutinitas.
Manajemen keuangan dalam Islam juga selalu berkaitan dengan keberkahan. Uang yang sedikit tapi cukup dan menenangkan lebih berharga daripada uang banyak tapi habis tanpa arah. Puasa melatih kita untuk menghargai yang sederhana. Dan dari situ, kita belajar mengelola rezeki secara bijak.
Ramadhan juga mengajarkan berbagi. Ada zakat, ada sedekah, ada infak. Ini bukan sekadar kewajiban ibadah, tetapi juga sistem ekonomi sosial. Ketika orang mampu berbagi, maka terjadi distribusi rezeki. Ketika distribusi berjalan, masyarakat lebih kuat. Jadi puasa bukan hanya membangun individu, tetapi membangun keseimbangan sosial.
Sayangnya, sebagian orang salah paham. Mereka berpuasa tetapi tetap kikir. Mereka tarawih tetapi tetap curang dalam bisnis. Mereka membaca Al-Qur’an tetapi tetap boros dan konsumtif. Ini yang membuat Ramadhan kehilangan makna.
Puasa seharusnya membentuk karakter baru: disiplin, hemat, bijak, dan terukur.
Jika setelah Ramadhan kita masih hidup dengan pola boros, masih menghabiskan uang demi gengsi, masih terjebak utang konsumtif, maka berarti puasa hanya berhenti pada lapar dan haus. Tidak sampai pada perubahan mentalitas.
Padahal, inti Ramadhan adalah transformasi.
Puasa mengajarkan bahwa mengatur uang sebenarnya sama seperti mengatur makan: cukupkan yang perlu, tahan yang berlebihan, dan sadar bahwa semua yang berlebihan pada akhirnya hanya akan menjadi beban.
Dan kalau Ramadhan tidak membuat kita lebih bijak dalam keuangan, maka kita patut bertanya: puasa kita benar-benar mendidik, atau hanya sekadar menggugurkan kewajiban?



