Jangan Gaslight Tenaga Pendidik Bergaji Rendah: Ini Bukan Sekadar “Mindset”

Surakarta, ekispedia.id – Ada satu kalimat yang makin sering muncul setiap kali kita bahas nasib tenaga pendidik bergaji rendah: “coba pakai growth mindset.” Kedengarannya positif, bahkan terasa seperti nasihat yang niatnya baik.

Tapi di banyak kasus, itu bukan motivasi, itu adalah gaslighting versi sopan. Karena kalau seseorang dibayar rendah, jam kerjanya panjang, statusnya rapuh, dan aturan mainnya gampang berubah, masalah utamanya bukan “kurang berkembang.” Masalahnya adalah eksploitasi. Dan eksploitasi upah di sektor pendidikan sering bukan kecelakaan, melainkan pola yang kebetulan berjalan mulus karena yang jadi korban adalah orang-orang yang terlalu punya moral untuk meninggalkan murid.

Bad Equilibrium: Kenapa Upah Rendah Bisa Bertahan Lama

Kalau kita lihat pakai kacamata yang lain, misalnya logika game theory, kondisi ini bisa dibaca sebagai “bad equilibrium”: situasi buruk yang bertahan lama bukan karena semua orang setuju, tapi karena setiap pihak punya alasan yang tampak rasional dari posisinya.

Lembaga pendidikan ingin biaya operasional serendah mungkin agar tetap hidup dan kompetitif; menekan upah jadi pilihan paling mudah dan paling cepat. Orang tua ingin biaya terjangkau, tapi juga menuntut kualitas tinggi; begitu ada kenaikan biaya, protesnya biasanya lebih kencang daripada ketika kualitas pengajaran turun pelan-pelan.

Negara ingin akses pendidikan luas, tapi kebijakan dan anggaran sering bergerak mengikuti prioritas politik dan tekanan fiskal; kesejahteraan pendidik mudah sekali terselip di daftar “nanti dulu.”

Di tengah permainan ini, tenaga pendidik berada di posisi paling lemah: mudah diganti, pilihan kerja terbatas, dan sering menahan diri untuk tidak “ribut” karena merasa tanggung jawab moral pada anak didik. Hasil akhirnya ironis: pendidikan bisa tetap terlihat “jalan,” tapi ongkosnya dibayar oleh pengorbanan pendidik, bukan oleh sistem yang sehat.

Ilustrasi by Tim ekispedia.id

Eksploitasi Keikhlasan: Subsidi Moral yang Tidak Pernah Dicatat

Di sinilah ada “bahan bakar” yang bikin bad equilibrium makin awet: keikhlasan, yang kemudian dieksploitasi. Keikhlasan pendidik, rasa tanggung jawab, dan rasa bersalah jika meninggalkan murid-muridnya sebenarnya nilai yang mulia. Tapi dalam praktik, ia sering diperlakukan seperti subsidi tak terlihat yang bikin sistem bisa terus hidup tanpa membayar biaya sebenarnya.

Kita terlalu akrab dengan kalimat-kalimat yang terdengar manis tapi efeknya menekan: “kan ini pengabdian,” “yang penting ikhlas,” “jangan hitung-hitungan,” atau “kalau benar-benar pendidik, jangan materialistis.” Mungkin tidak semua orang mengucapkannya dengan niat buruk. Tapi dampaknya tetap sama: keikhlasan dijadikan alat manajemen biaya. Pendidik akhirnya memikul dua beban sekaligus, yaitu beban kerja dan beban moral, sementara pihak lain menikmati kenyamanan sistem yang “tetap jalan.”

Lebih parah lagi, eksploitasi keikhlasan membuat pendidik sulit protes. Bukan hanya takut kehilangan pekerjaan, tapi juga takut dicap “tidak berdedikasi.” Ini memperkecil posisi tawar dan membuat ancaman “keluar” tidak kredibel. Dalam bahasa sederhana: sistem jadi semakin berani menekan karena tahu pendidik akan tetap bertahan.

“Fixed Mindset” yang Seringnya Gara-gara Capek dan Kepepet

Di titik ini, tuduhan “fixed mindset” sering muncul, seakan-akan yang membuat tenaga pendidik bertahan di upah rendah adalah pola pikir yang kurang progresif. Padahal banyak yang disebut fixed mindset itu sebenarnya gara-gara capek dan kepepet.

Ketika penghasilan pas-pasan, jam kerja panjang, kebutuhan rumah tangga mendesak, dan tekanan sosial menumpuk, orang masuk mode survival. Dalam mode ini, otak secara alami memilih yang paling aman untuk bertahan hari ini, bukan yang paling ideal untuk berkembang lima tahun ke depan.

Jadi, ketika seseorang tidak sempat belajar skill baru, bukan berarti ia tidak mau; sering kali ia tidak punya modal paling dasar: waktu, energi, dan ruang bernapas. Lalu kita datang dengan kalimat “coba upskill”, “coba peluang lain”, “ya jangan jadi guru”, seolah biaya upskill, mencoba peluang lain ataupun alih profesi itu bisa dibayar pakai afirmasi dan ucapan terimakasih, bukan uang, kuota, dan jam kosong.

Growth Mindset yang Realistis: Bukan Kursus Mahal, Tapi “Growth Mindset Hemat”

Bukan berarti growth mindset tidak berguna. Yang perlu dikoreksi adalah definisinya. Growth mindset yang sehat bukan versi seminar motivasi yang isinya “semangat, pasti bisa” atau “Pekerjaanmu yang dibayar kurang ini akan diganti dengan bentuk lain suatu saat nanti, jadi tetaplah bekerja sebaik mungkin”, Growth mindset yang realistis justru dimulai dari pengakuan bahwa sistemnya berat dan eksploitatif, sehingga strategi yang masuk akal adalah menambah opsi pemasukan dengan biaya serendah mungkin. Ini bisa disebut growth mindset hemat, atau micro-optionality: langkah kecil yang bisa diulang, bukan lompatan besar yang butuh modal besar.

Dalam dunia tenaga pendidik, “aset” yang relevan bukan harus properti atau bisnis besar; aset bisa berupa bank soal, modul ringkas, rangkuman materi, template pembelajaran, bahan ajar digital sederhana ataupun output kecil yang dibuat rutin dan bisa dipakai ulang, dijual, atau menjadi portofolio.

Opsi juga bisa datang dari luar lembaga utama: satu-dua murid les dari lingkungan sekitar, kelas kecil di akhir pekan, jasa bantu pembuatan materi untuk rekan, memang tidak bisa membuat seseorang “kaya mendadak,” tapi untuk memperkuat posisi tawar agar seseorang tidak sepenuhnya terkunci pada satu sumber penghasilan yang rapuh. Bahkan “upskill” paling murah kadang bukan kursus, tapi merapikan administrasi, mengelola portofolio, dan menempel pada sumber informasi yang benar agar tidak kalah bukan karena kompetensi, melainkan karena salah prosedur dan telat update.

Rich Dad vs Poor Dad” Versi Pendidik: Asset Bukan Buat Flexing, Tapi Buat Napas

Di sini, narasi “Rich Dad vs Poor Dad” sering ikut diseret, biasanya dalam bentuk nasihat yang terdengar menyebalkan: “kalau gaji kecil, bangun aset.” Dalam konteks pendidik bergaji rendah, kalimat itu memang bisa terasa tidak sensitive, kecuali kita membacanya dalam versi yang lebih masuk akal: jangan bergantung pada satu sumber pendapatan yang rentan. “Asset game” versi pendidik bukan gaya-gayaan, melainkan survival: reputasi, portofolio, produk ajar yang bisa dipakai ulang, jaringan profesional, dan dana darurat sekecil apa pun. Itu bukan buat flexing; itu buat napas.

Jangan Lempar Masalah Sistem ke Individu

Namun kita juga harus tegas: masalah ini tidak bisa diserahkan ke individu. Kalau kita menjadikan growth mindset sebagai jawaban utama, kita sedang melakukan privatisasi masalah publik, masalah sistem dipindahkan ke pundak orang yang paling lemah.

Kita menuntut pendidik terus adaptif, kreatif, dan inovatif, sementara fondasi paling dasar seperti memenuhi penghidupan yang layak tidak disediakan oleh sistem. Pada akhirnya, kualitas pendidikan tidak akan pernah naik secara sehat jika ia dibangun di atas eksploitasi. Kita bisa terus memuji pendidik dengan kalimat “pahlawan tanpa tanda jasa,” tapi di lapangan kalimat itu sering berubah jadi pembenaran halus: “ya sudah sabar saja, jangan banyak menuntut.”

Stop Romantisasi Pengorbanan

Kesimpulannya adalah tenaga pendidik bergaji rendah tidak butuh ceramah mindset sebagai pengganti kebijakan. Mereka butuh upah yang manusiawi, perlindungan kerja, aturan yang konsisten, dan sistem yang berhenti menumpang pada idealisme. Growth mindset tetap penting, tetapi bukan sebagai alat untuk menyuruh orang kuat-kuatan. Growth mindset yang paling sehat justru berangkat dari keberanian mengatakan: kalau sistemnya eksploitatif, yang harus berubah juga sistemnya, bukan hanya cara berpikir korbannya.