Buka Puasa Bersama: Silaturahmi atau Ajang Konsumsi?
Medan, ekispedia.id – Di bulan Ramadhan, satu tradisi yang hampir tidak pernah absen adalah acara buka puasa bersama, atau yang populer disebut bukber. Dari kantor pemerintahan, komunitas alumni, organisasi masyarakat, hingga kelompok pertemanan lama, hampir semua merasa perlu mengadakan acara ini. Kalender Ramadhan pun sering kali penuh dengan undangan bukber dari berbagai tempat.
Pada dasarnya, buka puasa bersama adalah tradisi yang baik. Ia menjadi ruang silaturahmi, mempererat hubungan sosial, mempertemukan orang-orang yang lama tidak berjumpa, dan memperkuat rasa kebersamaan. Dalam banyak kasus, bukber bahkan menjadi momen rekonsiliasi, memperbaiki hubungan yang sempat renggang.
Namun dalam praktiknya, tradisi ini juga menghadirkan satu pertanyaan yang semakin relevan: apakah buka puasa bersama masih murni sebagai ruang silaturahmi, atau perlahan berubah menjadi ajang konsumsi?
Bukber yang Semakin Mahal
Tidak bisa dipungkiri, tren buka puasa bersama dalam beberapa tahun terakhir mengalami perubahan. Banyak acara bukber kini lebih sering diadakan di restoran, kafe, hotel, atau tempat makan yang menawarkan paket khusus Ramadhan.
Paket menu berbuka yang disajikan pun beragam, mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah untuk satu meja. Promosi “all you can eat”, buffet Ramadhan, hingga paket berbuka eksklusif menjadi strategi bisnis yang sangat efektif bagi industri kuliner.
Bagi pelaku usaha, fenomena ini tentu membawa berkah. Ramadhan menjadi bulan dengan tingkat kunjungan pelanggan yang sangat tinggi. Namun dari sisi sosial, muncul pertanyaan lain: apakah tradisi bukber mulai kehilangan kesederhanaannya?
Karena tidak jarang, acara yang seharusnya sederhana justru berubah menjadi kegiatan yang menguras anggaran.
Silaturahmi yang Tertutup Gengsi
Di beberapa komunitas, bukber bahkan mulai terjebak dalam budaya gengsi. Tempat berbuka dipilih bukan lagi berdasarkan kenyamanan, tetapi prestise. Restoran yang “viral” atau tempat makan yang dianggap mewah menjadi pilihan agar acara terlihat lebih berkelas.
Akibatnya, biaya yang harus dikeluarkan pun ikut meningkat. Tidak semua anggota komunitas sebenarnya merasa nyaman dengan pengeluaran tersebut, tetapi sering kali tetap ikut demi menjaga hubungan sosial.
Di sinilah muncul dilema: silaturahmi yang seharusnya menguatkan kebersamaan justru berpotensi menciptakan tekanan sosial bagi sebagian orang.
Padahal dalam nilai-nilai Islam, kesederhanaan adalah bagian penting dari ibadah. Nabi Muhammad SAW sendiri dikenal berbuka dengan makanan yang sangat sederhana. Kurma dan air sudah cukup menjadi hidangan pembuka setelah seharian berpuasa.
Pesan yang ingin disampaikan jelas: esensi berbuka bukan pada kemewahan hidangan, tetapi pada rasa syukur dan kebersamaan.
Antara Konsumsi dan Kebersamaan
Buka puasa bersama sebenarnya memiliki potensi sosial yang sangat besar. Ia bisa menjadi ruang memperkuat solidaritas, berbagi rezeki, dan membangun empati. Banyak kegiatan bukber yang juga disertai dengan santunan anak yatim, penggalangan dana sosial, atau kegiatan keagamaan.
Namun ketika orientasinya bergeser terlalu jauh ke arah konsumsi, nilai sosial itu perlahan memudar.
Tidak sedikit acara bukber yang akhirnya hanya menjadi sesi makan bersama, foto-foto, lalu selesai. Percakapan yang terjadi pun sering kali tidak jauh dari urusan pekerjaan, bisnis, atau sekadar nostalgia ringan. Nilai refleksi Ramadhan yang seharusnya menjadi ruh acara justru jarang muncul.
Padahal Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan pesan spiritual tentang kesederhanaan, empati, dan solidaritas sosial.
Mengembalikan Makna Bukber
Bukan berarti buka puasa bersama harus dihindari. Tradisi ini tetap memiliki nilai positif yang besar jika dijalankan dengan niat yang tepat. Yang perlu dilakukan adalah mengembalikan orientasinya pada esensi kebersamaan, bukan pada kemewahan konsumsi.
Bukber bisa dilakukan dengan cara sederhana: di masjid, di rumah, atau di tempat yang tidak memberatkan siapa pun. Bahkan lebih baik lagi jika kegiatan tersebut disertai dengan berbagi kepada mereka yang membutuhkan.
Misalnya, komunitas yang biasanya mengadakan bukber di restoran mahal dapat mengalihkan sebagian anggaran untuk kegiatan sosial. Selain tetap menjaga silaturahmi, kegiatan tersebut juga memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat.
Dengan cara ini, tradisi bukber tidak hanya menjadi pertemuan sosial, tetapi juga sarana memperkuat kepedulian.
Refleksi di Bulan Ramadhan
Ramadhan selalu mengingatkan manusia tentang arti menahan diri. Puasa bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan dorongan konsumsi yang berlebihan.
Tradisi buka puasa bersama seharusnya menjadi bagian dari semangat itu. Ia menjadi ruang berbagi, bukan ajang pamer. Ia menjadi sarana mempererat hati, bukan sekadar memuaskan selera.
Karena pada akhirnya, nilai sebuah pertemuan tidak diukur dari mahalnya hidangan yang tersaji di meja makan. Nilai itu justru lahir dari kehangatan kebersamaan, keikhlasan berbagi, dan kesadaran bahwa Ramadhan adalah bulan untuk kembali kepada kesederhanaan.
Jika bukber mampu menjaga ruh itu, maka ia tetap menjadi tradisi yang indah. Tetapi jika yang tersisa hanya konsumsi dan gengsi, mungkin sudah saatnya kita kembali bertanya: untuk apa sebenarnya kita berkumpul saat berbuka puasa?



